Menyelesaikan Umrah Haji Tamattu


Menyambung cerita sebelumnya, kami melanjutkan rangkaian ibadah Umrah kami yang belum selesai dengan Tawaf dan Sa’i. Tak ada tawaf qudum (tawaf sunnah selamat datang) untuk yang berhaji tamattu, sebagai gantinya kami melakukan tawaf umrah.


Kegiatan untuk umrah tamattu ini adalah:
  • berniat dan ihram dari miqot
  • tawaf
  • shalat 2 rakaat di belakang maqam ibrahim dan minum air zamzam
  • sai
  • tahalul

Tepat pukul 21:00 kami berkumpul di Lobby. Masalah pertama yang harus dipecahkan adalah mengusahakan kursi roda untuk ibu Chodijah. Beliau merupakan satu-satunya jemaah yang memiliki keterbatasan dalam berjalan. Meski demikian tidak ada pihak keluarga/muhrim yang mendampingi beliau. Hanya keikhlasan dari anggota rombongan lah yang menjadikan manasik beliau terlaksana.

pemandangan masjidil haram dari hotel.

Sebagai gambaran, hotel tempat kami menginap kalau ditarik garis lurus menuju masjidil haram berjarak kurang lebih 500 meter. Namun untuk menuju masjidil haram, tidak ada jalan menerobos melainkan harus mengambil jalan memutar. Kami harus melewati jalan dengan anak tangga dan kemudian melewati terminal dan pasar dan akhirnya baru sampai di kompleks masjidil haram. Total jarak memutar kurang lebih 900 meter. 

Setelah beberapa saat menunggu, Alhamdulillah pihak hotel menyediakan kursi roda, dan mulailah kami berjalan menuju masjidil haram. Tidak ada gambaran sebelumnya bagaimana bentuk masjidil haram sebelum renovasi besar2an yang dilakukan saat ini. Namun yang ada sekarang, bagian dalam tempat tawaf menjadi jauh lebih sempit. Karena di atasnya di bangun tempat tawaf baru untuk orang yang menggunakan kursi roda.

Rekunstruksi membuat lahan tawaf menjadi lebih sempit. terlihat ada bangunan ke atas, mengililingi kabah yakni tempat tawaf untuk yang berkursi roda
Kami masuk dari pintu 21 yang merupakan gerbang marwah. Dari sana kami berunding siapa yang akan mendorong ibu chodijah. Akhirnya diputuskan dua orang pria dari anggota rombongan yang akan melakukannya. Namun pada prakteknya tidak mudah. Sekarang ini sudah dibangun tempat tawaf khusus untuk yang berkursi roda yang lokasinya cukup dekat dengan kabah. Namun tidak mudah untuk masuk kesana karena di jaga ketat oleh askar. Jamaah yang berkursi roda hanya boleh didampingi oleh satu orang pria atau dua orang berjenis kelamin berbeda asal ada hubungan mahramnya. Jadilah kami berputar2 mencari jalan dan cara agar bisa masuk ke tempat tawaf kursi roda dengan mengusahakan dua orang pria, supaya bisa mendorong bu chodijah bergantian. Sudah habis waktu 1 jam dari keberangkatan dari hotel namun belum juga didapat solusi. Terlihat dari beberapa anggota rombongan yang mulai tidak sabar, karena ingin secepatnya melaksanakan tawaf. ketika itu hanya satu orang yang akan membimbing tawaf sedangkan kami tidak bisa melaksanakan tawaf barengan karena masalah kursi roda. Selain itu masing2 ingin tawaf dibawah dan sedekat mungkin dengan ka’bah, padahal pengguna kursi roda tidak diperbolehkan tawaf di sana. 

Akhirnya kami  mengusulkan kalau kami berdua saja yang mendorong bu Chadijah. Entah dapat rasa percaya diri dari mana, padahal kami tidak punya pengalaman tawaf. Kami berdoa mudah2an apa yang kami pelajari bisa kami lakukan dengan lancar dan sesuai sunnah Rasul. Lalu kami bawa si ibu kelantai atas, alhamdulillah lolos sensor askar.

di foto dengan menggunakan kamera hp dari lantai paling atas mesjidil haram, terlihat tempat tawaf untuk yang berkursi roda

Sesampainya di arena tawaf, MasyaAllaaah... kabah terlihat dekat. Walaupun tidak bisa menyentuhnya namun ka’bah terlihat dengan jelas. Pertama kali melihat ka’bah sebelumnya ketika awal memasuki area tawaf ada perasaan terharu namun belum ada rasa mendalam, mungkin karena masih diliputi kebingungan. Namun kondisi berubah 180 derajat ketika kami bisa menatap ka’bah dengan tanpa penghalang seperti itu. Seperti ayah dan ibu bilang, air mata langsung bercucuran tanpa bisa tertahan, layaknya keran air yang dibuka. Sempat kami terdiam sebentar terpukau dengan keagungan Allah atas kabah ini, namun langsung kembali terjaga karena harus segera menuntaskan tugas tawaf bersama ibu chodijah. 

Menatap Kabah  dari dekat (T_T)

Setelah semua siap, dengan mengucap bismillahi allahu akbar sambil memberikan isyarat ke hajar aswad, mulailah kami tawaf. Meski tanpa ustadz pembimbing, tapi Alhamdulillah berkat link video yang ayah kasih, dan santapan buku2 yang kami peroleh, sepertinya tata cara tawaf kami berdasarkan sumber2 tersebut. Tidak ada bacaan-bacaan khusus ketika tawaf berlangsung, kami hanya berdzikir, berdoa (bacaan doa sendiri yang kami fahami) dalam hati, sambil menikmati gerakan memutari kabah. Ketika melewati rukun yamani (yakni sudut kabah sebelum hajar aswad) kami memperbanyak doa sapujagat (Rabbana atina fi dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina 'adzabannar) hingga menemui hajar aswad kembali. Begitu seterusnya hingga 7 kali putaran terlewati, tak terasa lelahnya. Tawaf di sana cukup tertib tidak dorong2an dan himpit2an.


Setelah selesai tawaf kami menuju tempat yang sejajar dengan maqam ibrahim. Mungkin ini juga salah satu keuntungan tawaf di atas, karena kami dapat menemukan area tepat di belakang maqam yang relatif kosong. Setelah shalat dua rakaat, kami berjalan kembali ke arah hajar aswad dan kemudian menuju ke terminal air zamzam untuk meminum zamzam seperti di sunnahkan oleh rasullullah SAW. 

Tempat sai di lantai 2
Tempat sai di lantai 1
Selesai meminum air zamzam kami menuju tempat sa’i. Rupanya tempat tawaf untuk kursi roda ini tersambung langsung dengan tempat sa’i di lantai dua yang juga diperuntukkan bagi kursi roda. Dan tempat ini juga relatif lebih sepi dibandingkan yang dilantai dasar. Oleh karena itu kami memutuskan untuk Sa’i di lantai dua, menikmati dzikir ketika berjalan antara dua bukit tersebut dan memperbanyak doa ketika di ujung2 bukit safa dan marwah. Setelah sa’i kami beristirahat sambil menunggu teman2 yang lain. 

Kami memutuskan untuk tahalul di hotel. Hal ini sebetulnya agak beresiko, cuman karena saat itu kami tidak membawa alat cukur, kami tetap pada keputusan untuk mengakhiri tahalul. Ketika telah berkumpul kembali dengan teman2 di luar mesjid, waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari yang artinya sudah lebih dari 24 jam kami tidak beristirahat. Badan sebetulnya sudah letih namun mengingat kalau kami pulang ke hotel dan kemudian istirahat takut akan ketiduran dan terlewat shalat subuh. Akhirnya kami memutuskan untuk tetap berada di masjidil haram walaupun teman2 lain (termasuk bu chadijah) memutuskan kembali ke hotel. 

Pengalaman subuh pertama di masjidil haram 

Tidak seperti ketika kami memasuki masjidil haram pukul 21:30, kali ini masjidil haram sudah penuh sesak dengan jamaah yang bersiap2 untuk shalat subuh, walaupun jam baru menunjukkan pukul 02.30. Kami berusaha mencari teman yang memungkinkan bagi kami untuk shalat berdampingan. Akhirnya entah bagaimana kami bisa terbawa ke lantai paling atas masjidil haram. Di tempat ini kami beratapkan langit yang penuh dengan bintang, namun masih bisa melihat kabah dari kejauhan. 


Dari lensa hp, menjelang shalat shubuh di lantai teratas masjidil haram

Setelah shalat tahyatul masjid (di sini kami lalai, kami tidak mendahulukan tawaf sunah dulu melainkan tahyatul masjid, mungkin karena badan sudah sangat letih saat itu), kami teruskan dengan shalat malam. Tepat jam 04:05 azan berkumandang. Agak tersentak kami, karena tidak menyangka subuh sudah masuk. Apalagi dari jadwal yang kami terima, subuh mestinya masih satu jam lagi. Karena juga telah letih tak terperhatikan oleh kami tidak adanya panggilan „bahwa shalat lebih baik dari pada tidur“ di azan ini. Setelah azan kami langsung shalat qabliah dua rakaat. Kemudian menunggu iqamah yang merupakan waktu penungguan yang sangat lama. Sambil berusaha menahan kantuk sambil membaca al-qur’an kami menunggu iqamah. Akhirnya satu jam kemudian muncul iqamah. Eh rupanya bukan iqamah melainkan kembali azan dan kali ini dengan panggilan „bahwa shalat lebih baik dari pada tidur“. Barulah uda tersadar kalau ini persis ketika menginap di bandung ada dua azan dan waktu itu si abang niko juga menyangka itu azan subuh. Beberapa hari kemudian berkesempatan berdiskusi dengan ustad pembimbing untuk group kami, bahwa azan pertama itu untuk menunjukkan waktu shalat malam sudah hampir habis yang selalu berjarak 1 jam menjelang azan subuh. 

Kemudian kami shalat subuh. Ketika mendengarkan bacaan Imam, langsung teringat ayah. Cara bacaan imam mirip dengan cara bacaan ayah. Sesuai dengan yang dicontohkan rasulullah, imam membaca gabungan beberapa surah dalam dua rakaat shalat subuh ini. 

Setelah shalat subuh, karena sudah sangat letih kami ingin segera kembali ke hotel. Namun sangat susah menembus lautan orang. Beberapa saat kemudian, kami dikejutkan oleh imam yang kembali melakukan takbir. Kami saling pandang memandang, shalat apa lagi ini? Baru beberapa saat setelah takbir kedua dikumandangkan baru sadar kalau itu adalah shalat jenazah. Kondisi badan yang fit dan segar memang sangat diperlukan untuk beribadah dengan khusyuk. Karena untuk shalat jenazah, sebetulnya sang bilal sudah menginformasikan sesaat setelah shalat subuh selesai, namun ya itu kami tidak sepenuhnya memperhatikan. 

Mesjid nabawi menjelang syuruq


Pulang ke hotel dan tahalul 

Memang benar kami rasakan, bahwa tahalul itu sebaiknya disegerakan. Dalam perjalanan pulang kehotel di saat keletihan yang sudah memuncak, hampir kami melakukan pelanggaran ihram. Ketika itu kami mengambil jalan pulang yang salah. Ada sedikit selisih paham diantara kami berdua, namun kami secepatnya istighfar, mudah2an kami tidak sampai terjerumus ke larangan ihram. Terlebih disaat keletihan yang melanda maka akan sangat rentan dengan pengendalian emosi. 

Sesampainya di hotel, kami ke kamar masing-masing. Neng langsung memotong rambutnya yang sudah diikat sekitar seujung jari. Sedangkan uda mendapati teman sekamar uda yang kebetulan orang turki masih tidur lelap. Uda segera mengambil mesin cukur elektrik dan mencukur rata rambut sendiri dalam kamar mandi dengan meninggalkan rambut sekitar 0.5 cm. Setelah itu mandi dan menganti ihram dengan baju biasa dan selanjutnya tidur. Sekitar jam 09:00 terbangun dan mendapati teman sekamar sedang siap untuk ke masjidil haram. 
Tempat potong rambut yang biasanya memiliki antrian panjang ketika waktunya tahalul.
Karena alasan tersebut juga karena faktor kebersihan dan sanitasi alat cukur, kami lebih memilih untuk membawa peralatan cukur rambut sendiri.

Kritik pertama datang dari Taher, teman sekamar, yang komplain kalau suara pemotong rambut elektrik menganggu tidurnya. Ya memang salah uda, maka uda selesaikan dengan minta maaf. Sebelum dia pergi ke masjidil haram, taher kembali bertanya. Siapa yang memotong rambut uda. Lalu uda bilang kalau dipotong sendiri. Dan dia langsung berteriak kalau uda telah melakukan kesalahan dan harus membayar dam. Menurut dia tahalul harus dilakukan oleh orang lain yang sedang tidak berihram. Lemas langsung badan pada saat itu. Serasa semua usaha untuk benar2 beribadah sesuai sunnah menguap begitu saja dengan kesalahan tadi. Ingin rasanya menangis. Taher menyuruh uda untuk melapor ke biro perjalanan dan membayar dam kepada mereka. Mungkin sisa keletihan masih melekat sehingga uda tidak bisa berfikir jernih. Padahal sejauh yang uda pahami belum pernah menemukan dalil yang mengatakan tahalul harus dilakukan oleh orang yang tidak berihram. Selain itu taher juga berkata bahwa tahalul tidak perlu memotong pendek semua rambut melainkan hanya cukup tiga helai saja. Serangan dari taher cukup membuat diri merasa terpukul. 

Setelah taher pergi, segera uda berganti pakaian karena memang sudah janjian dengan Neng untuk shalat dzuhur di masjidil Haram. Sesampainya di loby, karena rasa gelisah, uda beranikan diri menelpon ustad Ahmad zainuddin (yang ada di video youtube, selama kami belajar manasik, kami pernah menghubunginya lewat fb dan Alhamdulillah responnya sangat ramah dan baik. Malah beliau memberi nomor telponnya selama di saudi arabia. Akhirnya kami selalu menghubungi beliau jika ada masalah atau pertanyaan seputar manasik haji yang belum kami fahami, semoga Allah memberikan balasan yang sebaik2nya untuk pak ustadz). Ketika Uda sampaikan permasalahan tentang tahalul, alhamdulillah beliau mengatakan tidak ada dalil yang mendukung pendapat Taher. Alhamdulillah, maha suci Allah, saat itu juga semakin besar rasa syukur terhadap nikmat Allah atas jawaban dan penjelasan ustad zainuddin.

Bersambung......



Catatan kecil tentang Ringkasan Manasik Umrah pertama untuk haji tamattu

Catatan ini dibuat berdasarkan hasil mendengarkan ceramah pak ustadz ahmad Zainudin dan juga membaca buku2 terkait,


  • Sebelum berangkat, mandi wajib, memotong kuku, mencukur rambut2 tersembunyi 
  • Menggunakan wewangian untuk laki2 ke badan jangan ke baju 
  • Setelah selesai shalat fardhu(sunnah), berihram Atau kalau tidak shalat fardhu shalat sunnat wudhu.
  • Untuk wanita pakainnya lebar, tidak membentuk tubuh, tidak tipis menerawang, tdk menyerupai pakaian laki2 dan kafir, tidak terlalu memikat perhatian. 
  • Setelah dalam kendaraan/pesawat, berihram: berniat untuk berumrah, niatnya: labaika umrattan (Ya Allah aku penuhi panggilanMu untuk melakukan umrah). 
  • Larangan ihram mulai berlaku diantaranya: Mencukur rambut, Memotong kuku (jg termasuk larangan 10 dzulhijjah), menutup kepala bagi laki2 (pakai topi), Wanita gak boleh memakai kaos tangan, menutup muka dengan cadar, kecuali kalau berhadapan dengan non muhrim boleh menutupnya dengan kerudung. Memakai wewangian baik baju, makanan, etc utamakan gunakanan produk crème, deodorant, sabun, odol tanpa pewangi. Sanksinya: menyembelih kambing atau memberi makan 6 fakir miskin atau puasa 3 hari. Memungut benda jatuh juga tidak boleh kecuali berniat mengembalikan (hukum tanah haram), dll. 
  • Selama berihram memperbanyak bertalbiyah: Labbaika allahumma labbaik. Labbaika la syarika laka labbaik innalhamda wanni'mata laka wal mulka la syarika lak
  • Membaca do’a masuk kota mekkah, yakni: Artinya: “Ya Allah jadikanlah bagiku (kota ini) tempat yang nyaman dan berilah aku rizki didalamnya rizki yang halal. 
  • Persiapan Thawaf umrah untuk tamattu: Berwudlu, bebas najis, menutup aurat, beridhtiba’ utk laki2 (menyelendangkan kain ihram sehingga bahu kanan terbuka). 
  • Masuk masjid disunnahkan masuk melalui Babus Salam, baca doa masuk mesjid: ‘Dengan nama Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah. Ya Allah! Ampunilah dosa-dosaku dan buka kan lah pintu-pintu rahmatMu untukku’ 
  • Melihat ka’bah pertama kali, baca doa: Allahumma antassalam waminkassalam fahayyina rabbana bissalam “Ya Allah Engkaulah sumber segala kesejahteraan dan dari Engkaulah datangnya segala kesejahteraan, maka hidupkanlah kami ya Allah dengan keselamatan.” doa lain: “Ya Allah, tambahkanlah kepada rumah ini (Ka’bah) kehormatan, kemuliaan dan kewibawaan. Dan tambahkanlah kepada siapa yang menghormatinya dan memuliakannya, yaitu orang yang mendatanginya untuk haji dan ‘umroh kehormatan, keagungan, kemuliaan dan kebajikan.” 
  • Menuju lampu neon hijau yg sejajar dengan hajar aswad. Cium atau sentuh dengan tangan kanan atau dgn sesuatu ke hajar aswad kemudian menciumnya. Atau memberikan isyarat saja. Kemudian membaca: Bismillahi wallahu Akbar artinya: Dengan nama Allah, Allah Maha Agung” 
  • Untuk laki2 di sunnah kan berlari2 kecil pada 3 putaran pertama. 
  • Selama thowaf bacalah do´a dan dzikir yang jama´ah kehendaki atau sukai. 
  • Tiba di rukun yamani diusap kalau bisa. Dari situ berjalan ke hajar aswad kembali sambil membaca: doa sapujagad Rabbana atina fiddunya hasanah wa filakhirati hasanah waqina adzabannar “Wahai Rabb kami, Berilah kami kebaikan di dunia ini, dan berikanlah kami kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari siksa api neraka.” 
  • Kalau batal wudhu ketika thawaf, keluar dari lingkaran tawaf kemudian berwudu dan ulangi lagi thawafnya (lebih utama mengulangnya dari awal ketimbang melanjutkannya). Kalo kepotong shalat wajib, berhenti ketika adzan shalat disitu dan lanjut thawaf setelah salam (diulang dari awal lebih utama menurut madzab syafii) 
  • Thawaf 7 putaran dan 8 kali berinteraksi dgn hajar aswad 
  • Setelah selesai menuju maqam Ibrahim dan membaca: “Dan jadikanlah sebagian dari maqom Ibrohim sebagai tempat sholat.” 
  • Shalat 2 rakaat di belakang maqam ibrahim, rakaat pertama al kafirun, rakaat kedua al ikhlas 
  • Dianjurkan kembali ke hadjar aswad memberi isyarat dan kemudian minum air zam zam, berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfa’at dan rizki yang lapang serta obat dari segala penyakit”. 
  • Persiapan Sa’i: Niat, sai di mulai dari sofa di akhiri di marwah. 
  • Ketika mau naik ke atas bukit shafa  (ke bukit marwah tidak usah) membaca: Innashafa wal marwata min sya'aairillah “Sesungguhnya Shofa dan Marwa itu adalah syi´ar-syi´ar Allah.” 
  • Kemudian mengangkat kedua tangan menghadap kiblat dan berdoa: Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. La ilaha illallahu wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku walahul hamdu yuhyi wayumitu wahuwa 'alaa kulli sya'in qadir. La ilaha illallah wahdah anjaza wa'dahh, wa nashara a’bdahh wahhazamal ahzaba wahdahh. Setelah itu berdoa apa saja dengan khusyu. Ulang-ulang bacaan ini minimal tiga kali, Art.inya : “Allah Maha Agung, Allah Maha Agung, Allah Maha Agung, tiada illah melainkan Allah yang Tunggal tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya seluruh kerajaan, dan bagi-Nya seluruh puji, dan Ia kuasa atas segala sesuatu. Tiada illah melainkan Allah yang tunggal yang memenuhi janji-Nya dan yang menolong hamban-Nya dan menghancurkan musuh sendirian”. 
  • Baru setelah itu berjalan ke arah marwah, bagi laki-laki disunahkan hirwalah (lari-lari kecil di antara lampu hijau) sambil membaca doa: rabbigfir warham watajawaz 'amma ta'lam innaka antal a'azzul akram 
  • Sesampainya di marwah lakukan kembali yang di atas: mengangkat kedua tangan menghadap kabah bertakbir 3 x, membaca kalimat tauhid, dan berdoa. Diulang 3 kali baru kembali jalan ke shafa. Demikian seterusnya hingga 7 kali berjalan dan 8 kali berdoa. 
  • Bertahalul: potong ujung2 rambut/memendeken rambut secara menyeluruh untuk laki2. Untuk wanita Mengikat rambut dan memotong ujungnya minimal sepanjang ruas jari. 
  • Setelahnya bisa ganti baju biasa dan sudah bebas dari larangan ihram.




0 comments:

Post a Comment

 

Flickr Photostream

Created with flickr badge.

YOUTUBE

Meet The Author

My photo

a simple house wife, a food and plants lover, a blogger, a photography addict.
find out more here: 
youtube channel: youtube.com/user/rustka
food blog: www.dbento.com
traveling blog: rustka.blogspot.de
instagram: @LiaRustka
tweeter: @LiaDamayanti
facebook: Bento Mania